Cerita Sony Sis Kembaren tentangJERUK
Bunyi flip dua kali di handphone ku, tandanya ada SMS. Kubuka, dan terbaca disana, Pak, datanglah ke gunung, karena jeruk kita hanya ditawar dua ribu lima ratus rupiah per kilo, dan yang diambil hanya sampai grade C. Ini adalah pesan singkat dari istriku. Dia memang mengelola kebun itu sejak awal. Aku perhitungkan panen bulan agustus tahun dua ribu delapan ini bisa memberikan pendapatan yang baik. Dengan perkiraan produksi tiga puluh ton, dengan harga tiga ribu, menghasilkan kotor sembilan puluh juta rupiah. Demikian perhitunganku. Tapi rupanya agen ekspedisi itu menurunkan harga sampai lima ratus rupiah per kilo gram. Berarti kekurangannya sampai lima belas juta, setara dengan tiga ton pupuk. Aku terpaksa naik ke gunung, untuk melakukan negosiasi ulang.
Pendek cerita, akhirnya memang hanya dua ribu lima ratus, dan uangnya juga hanya tujuh puluh juta. Enam puluh persen dikembalikan ke menejemen pengelola, dan sisanya dapat ditabung. Jadi yang bisa dibawa pulang hanya tiga puluh juta untuk siklus enam bulan.
Makin lama bertani jeruk semakin tidak menguntungkan. Dulu, ketika obat Curracorn masih tiga puluh ribu satu botol, pupuk Paten Kali Butir baru seratus tujuh puluh lima ribu per zaak, masih bisa dikelola dengan harga jual dua ribu lima ratus rupiah per kilogram. Tapi sekarang, dengan pupuk hamper lima ratus ribu per zaak, harga obat obatan sampai dwelapan puluh ribu per botol, mustahil meneruskan usaha ini, karena harga jual tetap dua ribu lima ratus rupiah per kilogram.
Satu kali saya bertanya kepada agen pemasaran, mengapa harga di kebun hanya dua ribu lima ratus rupiah, sementara di Jakarta kalian menjualnya sembilan ribu per kilogram. Kemudian diperincilah biaya pemasaran mulai dari pintu gerbang kebun sampai dengan di tangan pedagang pengecer. Bahwa biaya solar sampai Jakarta dari kebun adalah dua ribu lima ratus rupiah per kilogram. Kemudian disepanjang jalur Medan Jakarta, terdapat sekitar tiga puluh pos yang harus dilaui, dengan rata-rata pengeluaran lima puluh ribu rupiah sehingga jumlahnya menjadi satu juta lima ratus ribu rupiah atau empat ratus rupiah per kilogram. Biaya makan dua orang supir da
n satu kernet selama seminggu diperjalanan adalah lima juta rupiah, atau seribu dua ratus lima puluh rupiah per kilogram. Biaya bongkar muat adalah dua ratus limapuluh rupiah per kilogram. Sehingga, total biaya sampai bongkar di Jakarta adalah empat ribu tiga ratus lima puluh rupiah perkilogram. Ditambah dengan harga beli di kebun menjadi enam ribu delapan ratus lima puluh rupiah per kilogram. Keuntungan di agen Jakarta lima ratus rupiah per kilogram, nilai penyusutan lima ratus rupiah per kilogram, untung pengecer lima ratus rupiah perkilogram, sehingga totalnya adalah delapan ribu delapan ratus lima puluh rupiah per kilogram. Bagaimana dengan keuntungan ekspedisi, hanya seribu rupiah per kilogram. Total harga adalah sembilan ribu delapan ratus lima puluh rupiah per kilogram. Jika biaya produksi mencapai dua ribu rupiah lebih di kebun, maka yang paling sedikit mendapat untung adalah petani. Hanya lima ratus rupiah per kilogram. Ironis memang. What Can I Do ??????????